Selamat Datang dan Sejahtera Pembaca
yang Budiman,
Sinergitas
antar lembaga pendidikan menjadi bagian penting dalam menghasilkan output
pendidikan yang optimal. Oleh karena itu, wajib kiranya sebagai seorang
pendidik kita mengetahui mengenai lingkungan pendidikan.
Bahan bacaan yang ada di ambil dari
makalah hasil perkuliahan "pengantar pendidikan", yang telah
dipresentasikan oleh Achmad Shidiq
Ichwan, Nur Fidayat (saya sendiri), Boby Agam Romdhoni, dan Rendyana Mulya
Prayogi. Mereka adalah teman satu angkatan (2012), di Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Universitas Negeri Malang (UM).
Seperti halnya buku dan karya ilmiah, isi merupakan tanggung jawab penulis.
Berikut
kami sajikan paparannya. Selamat Membaca J
Jangan lupa biasakan like and comment, setelah
membaca atau mengambil tulisan. Silakan kemukakan kritik dan saran secara
bijak. Terima Kasih. (NFY.2016.nurfidayat16@gmail.com).
Pendidikan
merupakan faktor utama dalam pembentukan pribadi manusia.
Pendidikan sangat berperan dalam
membentuk baik atau buruknya pribadi manusia menurut ukuran normatif. Disisi
lain proses perkembangan dan pendidikan manusia tidak hanya terjadi dan
dipengaruhi oleh proses pendidikan yang ada dalam sistem pendidikan formal
(sekolah) saja. Manusia selama hidupnya selalu akan mendapat pengaruh dari
keluarga, sekolah, dan masyarakat luas. Ketiga lingkungan itu sering disebut
sebagai tripusat pendidikan. Dengan kata lain proses perkembangan pendidikan
manusia untuk mencapai hasil yang maksimal tidak hanya tergantung tentang
bagaimana sistem pendidikan formal dijalankan. Namun juga tergantung pada
lingkungan pendidikan yang berada diluar lingkungan formal.
PENGERTIAN LINGKUNGAN PENDIDIKAN
Lingkungan secara umum diartikan
sebagai kesatuan ruang dengan segala benda, daya, keadaan, dan mahluk hidup,
termasuk manusia dan perilakungya, yang mempengaruhi kelangsungan kehidupan dan
kesejahteraan manusia serta mahluk hidup lainnya. Lingkungan dibedakan menjadi
lingkungan alam hayati, lingkungan alam non hayati, lingkungan buatan, dan
lingkungan sosial.
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran atau pelatihan agar peserta didik secara
aktif dapat mengembangkan potensi dirinya supaya memiliki kekuatan spritual
keagamaan, emosional, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,
serta keterampilan yang diperlukan dirinya di masyarakat. Jadi, lingkungan
pendidikan dapat diartikan sebagai berbagai faktor lingkungan yang berpengaruh
terhadap praktek pendidikan. Lingkungan pendidikan sebagai lingkungan tempat
berlangsungnya proses pendidikan, yang merupakan bagian dari lingkungan fisik
dan juga lingkungan sosial.
JENIS LINGKUNGAN PENDIDIKAN
Dilihat dari segi anak didik, tampak
bahwa anak didik secara tetap, hidup di dalam lingkungan masyarakat tertentu
tempat ia memperoleh pendidikan. Menurut Ki Hajar Dewantara, lingkungan pendidikan
disebut sebagai tripusat pendidikan, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Berikut
uraiannya.
Keluarga
Keluarga merupakan pengelompokan
primer yang terdiri dari sejumlah kecil orang karena hubungan sedarah. Keluarga
itu dapat berbentuk keluarga inti (ayah, ibu, dan anak) ataupun keluarga yang
diperluas (adik/ipar,kakek/nenek,pembantu), pada umumnya jenis keduanya yang
banyak di temui di Indonesia (Tirtaraharja, 2005:168). Menurut Ki Hajar
Dewantoro, suasana kehidupan keluarga merupakan tempat yang sebaik-baiknya
untuk melakukan pendidikan individual maupun pendidikan sosial. Keluarga
merupakan lembaga pendidikan tertua, bersifat informal, yang pertama dan utama
dialamai oleh anak, serta lembaga pendidikan yang bersifat kodrati. Orang tua
bertanggung jawab memelihara, merawat, melindungi, dan mendidik anak agar
tumbuh dan berkembang dengan baik. Pendidikan keluarga berfungsi (1) sebagai
pengalaman pertama masa kanak-kanak, (2) menjamin kehidupan emosional anak, (3)
menanamkan dasar pendidikan moral, (4) memberikan dasar pendidikan sosial, (5)
meletakkan dasar-dasar pendidikan agama bagi anak-anak.
Pendidikan keluarga dapat
dibedakan menjadi 2 yaitu pendidikan prenatal (pendidikan dalam kandungan) dan
pendidikan postnatal (pendidikan setelah lahir).
Pendidikan
prenatal (pendidikan dalam kandungan) diyakini merupakan pendidikan untuk
pembentukan potensi yang akan dikembangkan dalam proses pendidikan selanjutnya.
Wujud praktek pendidikan prenatal cenderung dipengaruhi oleh praktik-praktik
budaya seperti doa untuk si janin. Sedangkan, pendidikan postnatal (pendidikan
setelah lahir) yaitu pendidikan yang diberikan kepada si anak setelah lahir
dengan hal – hal yang akan bermanfaat dan berguna dalam hidupnya. Wujud praktek
pendidikan postnatal yaitu cenderung pada pendidikan karakter dan perilaku dari
individu tersebut.
Dasar tanggung jawab keluarga terhadap pendidikan anaknya yang
pertama meliputi motivasi cinta kasih yang menjiwai hubungan orangtua dengan
anak. Cinta kasih ini akan mendorong sikap dan tindakan untuk menerima tanggung
jawab dan mengabdikan hidupnya untuk sang anak. Yang kedua yaitu motivasi
kewajiban moral orangtua terhadap anak. Tanggung jawab moral ini meliputi
nilai-nilai religious spiritual untuk memelihara martabat dan kehormatan
keluarga. Serta tanggung jawab sosial sebagai bagian dari keluarga yang pada
gilirannya juga akan menjadi bagian dari masyarakat.
Sekolah
Tidak semua tugas mendidik dapat
dilaksanakan oleh orang tua dalam keluarga, terutama dalam hal ilmu pengetahuan
dan berbagai macam keterampilan. Oleh karena itu anak dimasukkan ke sekolah. Sekolah
merupakan sarana yang secara sengaja dirancang untuk melaksanakan pendidikan.
Semakin maju suatu masyarakat semakin penting peran sekolah dalam mempersiapkan
generasi muda sebelum masuk dalam proses pembangunan masyarakatnya itu
(Tirtaraharja, 2005:173). Sekolah bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak
selama mereka diserahkan kepadanya. Karena itu, sebagai sumbangan sekolah
sebagai lembaga terhadap pendidikan, diantaranya (1) sekolah membantu orang tua
mengerjakan kebiasaan-kebiasaan yang
baik serta menanamkan budi pekerti yang baik, (2) sekolah memberikan pendidikan
untuk kehidupan di dalam masyarakat yang sukar atau tidak dapat diberikan di
rumah, (3) sekolah melatih anak-anak memperoleh kecakapan-kecakapan seperti
membaca, menulis, berhitung, menggambar, serta ilmu-ilmu lain yang sifatnya
mengembangkan kecerdasan dan pengetahuan, (4) Di sekolah diberikan pelajaran
etika, keagamaan, estetika, membedakan mana yang benar dan yang salah,
Suatu alternatif yang mungkin
dilakukan sesuai situasi dan kondisi sekolah antara lain pengajaran yang
mendidik, peningkatan dan pemantapan pelaksanaan program bimbingan dan
penyuluhan di sekolah, pengembangan perpustakaan sekolah menjadi suatu
pusat/sumber belajar, peningkatan dan pemantapan program pengelolaan sekolah. Demikianlah
alternatif yang dapat yang dapat dilakukan untuk meningkatkan fungsi sekolah
sebagai bagian dari tripusat pendidikan. Alternative itu tentulah seiring
dengan peningkatan mutu masukan instrumental dari sekolah,seperti kurikulum,dan
tenaga kependidikan (Tirtaraharja, 2005:178)
Dengan kata lain, sekolah
sebagai pusat pendidikan adalah sekolah yang mencerminkan masyarakat yang maju
karena pemanfaatan secara optimal ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi tetap
berpijak pada ciri ke Indonesiaan. Dengan demikian, pendidikan di sekolah
secara seimbang dan serasi bisa mencakup aspek kebudayaan, penguasaan
pengetahuan, dan pemilik keterampilan peserta didik. Selain itu, sekolah juga
telah mencapai posisi yang sangat sentral dalam upaya mendidik manusia. Sekarang sekolah tidak lagi
berfungsi sebagai pelengkap pendidikan kelurga, tetapi merupakan kebutuhan. Hal
itu disebabkan karena pendidikan berimbas pada pola pikir ekonomi, yaitu
efektivitas dan efisiensi yang merupakan ideologi dalam pendidikan.
Dasar tanggung jawab
sekolah akan pendidikan meliputi tanggung jawab formal kelembagaan (sesuai
ketentuan dan perundangan pendidikan yang berlaku), tanggung jawab keilmuan
(isi, tujuan dan jenjang pendidikan yang dipercayakan padanya oleh masyarakat
dan pemerintah), tanggung jawab fungsional (tanggung jawab profesi berdasarkan
ketentuan jabatannya).Terdapat empat macam pengaruh pendidikan sekolah terhadap
perkembangan masyarakat, yaitu: (1) mencerdaskan kehidupan masyarakat, (2) membawa
pengaruh pembaharuan bagi perkembangan masyarakat (3) mencetak warga
masyarakat yang siap dan terbekali bagi kepentingan kerja di lingkungan
masyarakat, (4) melahirkan sikap-sikap positif dan konstruktif bagi warga
masyarakat, sehingga tercipta integrasi sosial yang harmonis
ditengah-tengah masyarakat
Masyarakat
Dalam konteks pendidikan, masyarakat
merupakan lingkungan keluarga dan sekolah. Pendidikan yang dialami dalam
masyarakat ini, telah di mulai ketika anak-anak lepas dari asuhan keluarga dan
berada di luar dari pendidikan sekolah. Dengan demikian, pengaruh pendidikan
tersebut tampaknya lebih luas. Corak dan ragam pendidikan yang dialami
seseorang dalam masyarakat banyak sekali, ini meliputi segala bidang, baik
pembentukan kebiasaan-kebiasaan, pembentukan pengertian-pengertian
(pengetahuan), sikap dan minat, maupun pembentukan kesusilaan dan keagamaan.
Kaitan
antara masyarakat dan pendidikan dapat ditinjau dari tiga sisi, yaitu : masyarakat
sebagai penyelenggara pendidikan, lembaga-lembaga kemasyarakatan atau kelompok
sosial dimasyarakat, dan dalam masyarakat tersedia berbagai sumber belajar baik
yang dirancang (by desing), maupun yang
dimanfaatkan (utility).
Dari tiga hal tersebut,poin yang kedua dan ketigalah yang
utama dalam kaitannya dengan dunia pendidikan. Meskipun ketiganya dapat dibedakan,
akan tetapi sulit untuk dipisahkan.
Untuk Indonesia, perkembangan masyarakat
itu paling bervariasi,sehingga wujud sosial kebudayaan di Indonesia saat ini
menurut koentjaraningrat (dari Wayan Ardhana, 1986: Modul 1/71-72 dalam
Tirtaraharja) paling sedikit dapat dibedakan menjadi enam tipe sosial-budaya
sebagai berikut (1) Tipe masyarakat berdasarkan sistem berkebun yang amat
sederhana, (2) Tipe masyarakat pedesaan berdasarkan bercocok tanam di ladang
atau sawah dengan tanaman pokok padi, (3) Tipe masyarakat pedesaan berdasarkan
sistem bercocok tanam di ladang atau sawah, (4) Tipe masyarakat pedesaan
berdasarkan sistem bercocok tanam di sawah dengan tanaman pokok padi, dan (5) Tipe
masyarakat perkotaan.
Selain tipe masyarakat di atas, yang
dapat mempengaruhi karakteristik seseorang, terdapat juga lembaga
kemasyarakatan kelompok sebaya dan atau kelompok sosial seperti remaja masjid,
pramuka,dan organisasi pemuda. Yang mempunyai fungsi kelompok teman sebaya
terhadap anggotanya antara lain : mengajar berhubungan dan menyesuaikan diri dengan
orang lain, memperkenalkan kehidupan masyarakat yang lebih luas, menguatkan
sebagian dari nilai-nilai yang berlaku dalam kehidupan masyarakat orang dewasa,
memberikan kepada anggota-anggotanya cara-cara untuk membebaskan diri dari
pengaruh kekuatan otoritas, memberikan pengalaman untuk mengadakan hubungan
yang didasarkan pada prinsip persamaan hak, memberikan pengetahuan yang tidak
bisa diberikan oleh keluarga secara memuaskan (pengetahuan mengenai cita rasa
berpakaian, musik, dan jenis tingkah laku tertentu), memperluas cakrawala
pengalaman anak, sehingga ia menjadi orang yang lebih kompleks. Meskipun
organisasi-organisasi tersebut memiliki kesamaan dalam prinsip dasarnya, akan
tetapi memiliki latar yang berbeda baik dari segi jenis kegiatan dan juga aspek-aspek
lainnya. Dengan demikian organisasi tersebut menyediakan program pendidikan
bagi anak-anaknya, yakni : mengajarkan keyakinan serta praktik-praktik
keagamaan dengan cara memberikan pengalaman-pengalaman yang menyenangkan bagi
mereka, mengajarkan bagi mereka tingkah laku dan prinsip-prinsip moral yang
sesuai dengan keyakinan-keyakinan agamanya, dan memberikan model-model bagi
perkembangan watak (Wayan Ardhana, 1986: Modul 5/18 dalam Tirtaraharja).
Selanjutnya, manusia dalam bekerja dan hidup sehari-hari akan
selalu berupaya memperoleh manfaat dari pengalaman hidupnya itu untuk
meningkatkan dirinya. Dengan kata lain, manusia berusaha mendidik dirinya
sendiri dengan memanfaatkan sumber-sumber belajar yang tersedia di
masyarakatnya dalam bekerja, bergaul, dan sebagainya. Ada 5 pranata sosial
(social institutions) yang terdapat di dalam lingkungan social atau masyarakat
yaitu :
1. Pranata pendidikan, bertugas dalam upaya sosialisasi
2. Pranata ekonomi, bertugas mengatur upaya pemenuhan kemakmuran
3. Pranata politik, bertugas menciptakan integritas dan stabilitas
masyarakat
4. Pranata teknologi, bertugas menciptakan teknik untuk
mempermudah manusia
5. Pranata moral dan etika, bertugas mengurusi nilai dan
penyikapan dalam pergaulan masyarakat
Akhir – akhir ini sekolah dinilai terjadi kesenjangan dengan
masyarakatnya. Sekolah dianggap cenderung arogan terhadap masyarakatnya,
sedangkan masyarakat kurang peduli terhadap sekolah. Dalam banyak hal sekolah
dinilai telah tertinggal dari masyarakatnya dan kini banyak sekolah yang belajar
dari masyarakat. Hal ini karena berbagai inovasi seperti dalam hal teknologi
terlebih dahulu terjadi di masyarakat daripada sekolah. Dan hal ini tentu
sangat wajar karena sekolah hanya salah satu pranata yang ada dalam masyarakat
diantara empat pranata yang lain. Selain itu, masyarakatlah yang memiliki
berbagai sumber daya yang memungkinkan untuk mengembangkan berbagai inovasi.
Fungsi
Lingkungan Pendidikan
Setiap pusat pendidikan dapat
berpeluang memberikan kontribusi yang besar dalam ketiga kegiatan pendidikan,
yakni pembimbingan dalam upaya pemantapan pribadi yang berbudaya, pengajaran
dalam upaya penguasaan pengetahuan, dan pelatihan dalam upaya pemahiran
keterampilan.
Secara umum fungsi lingkungan
pendidikan adalah membantu peserta didik dalam interaksi dengan berbagai
lingkungan sekitarnya, utamanya berbagai sumber daya pendidikan yang tersedia,
agar dapat mencapai tujuan pendidikan yang optimal. Terdapat hubungan timbal
balik dan saling mempengaruhi antara lingkungan yang satu dengan lingkungan
yang lain. Lingkungan keluarga sebagai dasar pembentukan sikap dan sifat
manusia. Lingkungan sekolah sebagai bekal keterampilan dan ilmu pengetahuan,
sedangkan lingkungan masyarakat merupakan tempat praktek dari bekal yang
diperoleh di keluarga dan sekolah sekaligus sebagai tempat pengembangan
kemampuan diri.
DAFTAR PUSTAKA
Tirtarahardja, Umar dan S.L. La Sulo. 2005. Pengantar
Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta
Imam
Gunawan.2012. Lingkungan Pendidikan, (http://masimamgun.blogspot.com/2012/05/lingkungan-pendidikan.html),
diakses tanggal 7 September 2012
Zahra.2012. Makalah
Pengantar Pendidikan ( Pengertian, jenis, dan fungsi lingkungan
pendidikan ), (http://zahraa02.wordpress.com/2012/02/13/
pengantar-pendidikan-pengertian-jenis-dan-fungsi-lingkungan-pendidikan/),
diakses tanggal 7 September 2012
Hartoto. 2008.
Bab V Pengertian,
Fungsi dan Jenis Lingkungan Pendidikan, (http://fatamorghana.wordpress.com/2008/07/16/bab-v-pengertian-fungsi-dan-jenis-lingkungan-pendidikan/),
diakses tanggal 7 September 2012
No comments:
Post a Comment