Selamat Datang dan Sejahtera Pembaca
yang Budiman,
Pendidikan merupakan
usaha oleh dan dari manusia. Oleh karena itu, wajib kiranya sebagai seorang
pendidik kita mengetahui mengenai hakikat manusia itu sendiri.
Bahan bacaan yang ada
di ambil dari makalah hasil perkuliahan "pengantar pendidikan", yang
telah dipresentasikan oleh Musdalifah Mithasari, Henik Nur
Kholifah, Mardiana Putri Adrianti, Rizal Tanzil Afgani, dan Qurrotu
Aini. Mereka adalah teman satu angkatan (2012), di Pendidikan Guru Sekolah
Dasar (PGSD), Universitas Negeri Malang (UM). Seperti halnya karya ilmiah, isi
merupakan tanggung jawab penulis.
Berikut kami sajikan
paparannya. Selamat Membaca J
Jangan lupa biasakan like and comment, setelah
membaca atau mengambil tulisan. Silakan kemukakan kritik dan saran secara
bijak. Terima Kasih. (NFY.2016.nurfidayat16@gmail.com).
HAKIKAT MANUSIA
Manusia adalah
makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna diantara yang lainnya karena kita
dikaruniai akal, pikiran dan perasaan oleh Tuhan. Maka akan selalu memilih
yang terbaik diantara yang dapat diambil. Hakikat manusia juga memiliki banyak
arti, yaitu
a. Makhluk yang memiliki tenaga
dalam yang dapat menggerakkan hidupnya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.
b. Individu yang memiliki sifat rasional
yang bertanggung jawab atas tingkah laku intelektual dan sosial.
c.
Mampu
mengarahkan dirinya ke tujuan yang positif mampu mengatur dan mengontrol
dirinya dan mampu menentukan nasibnya.
d. Makhluk yang dalam proses menjadi
berkembang dan terus berkembang tidak pernah selesai (tuntas) selama hidupnya.
e. Individu yang dalam hidupnya
selalu melibatkan dirinya dalam usaha untuk mewujudkan dirinya sendiri,
membantu orang lain dan membuat dunia lebih baik untuk ditempati
f.
Suatu
keberadaan yang berpotensi yang perwujudanya merupakan ketakterdugaan dengan
potensi yang tak terbatas
g. Makhluk Tuhan yang berarti ia adalah
makhluk yang mengandung kemungkinan baik dan jahat.
h. Individu yang sangat dipengaruhi oleh
lingkungan turutama lingkungan sosial, bahkan ia tidak bisa berkembang sesuai
dengan martabat kemanusaannya tanpa hidup di dalam lingkungan sosial.
Kewajiban
dan hak, merupakan indikator bahwa manusia sebagai makhluk sosial. Dalam
kehidupan, hak dimaknai sebagai sesuatu yang menyenangkan, sedangkan
kewajiban dimaknai sebagai beban. Tapi menurut (Drijar Kara, 1978) kewajiban
bukan beban, tetapi keniscayaan sebagai manusia, mengenal berarti mengingkari
kemanusiaan, sebaliknya melaksanakan kewajiban berarti kebaikan. Pemenuhan akan
hak dan pelaksanaan kewajiban berkaitan erat dengan keadilan, dapat dikatakan
kedilan terwujud bila hak sejalan dengan kewajiban. Kemampuan menghayati
kewajiban sebagai keniscayaan tidak lahir dengan sendirinya, tetapi melalui
suatu proses pendidikan (disiplin).
Kehadiran
manusia pertama tidak terlepas dari asal usul kehidupan di alam semesta. Asal
usul manusia menurut ilmu pengetahuan tidak bisa dipisahkan dari teori tentang
spesies lain yang telah ada sebelumnya melalui proses evolusi.
Evolusi menurut para ahli paleontology
dapat dibagi menjadi empat kelompok berdasarkan tingkat evolusinya, yaitu :
Pertama, tingkat pra manusia yang fosilnya ditemukan di Johanesburg Afrika
Selatan pada tahun 1942 yang dinamakan fosil Australopithecus. Kedua, tingkat
manusia kera yang fosilnya ditemukan di Solo pada tahun 1891 yang disebut.
pithecanthropus erectus. Ketiga, manusia purba, yaitu tahap yang lebih dekat
kepada manusia modern yang sudah digolongkan genus yang sama, yaitu Homo
walaupun spesiesnya dibedakan. Fosil jenis ini di neander, karena itu disebut
Homo Neanderthalesis dan kerabatnya ditemukan di Solo (Homo Soloensis).
Keempat, manusia modern atau Homo sapiens yang telah pandai berpikir,
menggunakan otak dan nalarnya.
Hakikat manusia terdiri
atas aspek – aspek, sebagai berikut:
Yang petama, MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK TUHAN
Manusia adalah subjek
yang memiliki kesadaran (consciousness)
dan penyadaran diri (self – awarness).
Karena itu, manusia adalah subjek yang menyadari keberadaannya, ia mampu membedakan
dirinyadengan segala sesuatu yang ada di luar dirinya (objek) selain itu,
manusia bukan saja mampu berpikir tentang diri dan alam sekitarnya, tetapi
sekaligus sadar tentang pemikirannya. Namun, sekalipun manusia menyadari
perbedaanya dengan alam bahwa dalam konteks keseluruhan alam semesta manusia
merupakan bagian daripadanya.
Manusia berkedudukan
sebagai makhluk tuhan YME maka dalam pengalaman hidupnya terlihat bahkan dapat
kita alami sebdiri adanya fenomena kemakhlukan (M.I. Soelaeman, 1998). Fenomena
kemakhlukkan ini, antara lain berupa pengakuan atas kenyataan adanya perbedaan
kodrat dan martabat manusia daripada tuhannya. Manusia merasakan dirinya begitu
kecil dan rendah di hadapan Tuhan Yang Maha Besar dan Maha Tinggi. Manusia
mengakui keterbatasan dan ketidakberdayaannya dibanding tuhannya Yang Maha
Kuasa dan Maha Perkasa. Manusia serba tidak tahu, sedangkan Tuhan serba Maha
Tahu. Manusia bersifat fana, sedangkan Tuhan bersifat Abadi, manusia merasakan
kasih sayang TuhanNya, namun ia pun tahu pedih siksaNya. Semua melahirkan rasa
cemas dan takut pada diri manusia terhadap tuhannya. Tetapi dibalik itu
diiringi pula dengan rasa kagum, rasa hormat, dan rasa segan karena TuhanNya
begitu luhur dan suci. Semua itu menggugah kesedian manusia untuk bersujud dan
berserah diri kepada PenciptaNya. Selain itu, menyadari akan Maha Kasih
SayangNya Sang Pencipta maka kepadaNya-lah manusia berharap dan berdoa. Dengan
demikian, dibalik adanya rasa cemas dan takut itu muncul pula adanya harapan
yang mengimplikasikan kesiapan untuk mengambil tindakan dalam hidupnya.
Yang kedua, MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK INDIVIDU
Sebagaimana
Anda alami bahwa manusia menyadari keberadaan dirinya sendiri. Kesadaran
manusian akan dirinya sendiri merupakan perwujudan individualitas manusia. Manusia
sebagai individu atau pribadi merupakan kenyataan yang paling riil dalam
kesadaran manusia. Sebagai individu, manusia adalah satu kesatuan yang tak
dapat dibagi, memiliki perbedaan dengan manusia lainnya sehingga bersifat unik,
dan merupakan subjek yang otonom.
Setiap
manusia mempunya dunianya sendiri, tujuan hidupnya sendiri. Masing-masing
secara sadar berupaya menunjukkan eksistensinya, ingin menjadi dirinya sendiri
atau bebas bercita – cita untuk menjadi seseorang tertentudan masing – masing
mampu menyatakan “inilah aku” ditengah segala yang ada. Setiap manusia mampu
mengambil distansi, menempati posisi, berhadapan, menghadapi, memasuki,
memikirkan, bebas mengambil sikap, dan bebas mengambil tindakan atas tanggung
jawabnya sendiri atau otonom. Karena itu, manusia adalah subjek dan tidak
sebagai objek.
Yang Ketiga, MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK SOSIAL
Manusia
adalah makhluk individual, namun demikian ia tidak hidup sendirian, tak mungkin
hidup sendirian, dan tidak pula hidup untuk dirinya sendiri. Manusia hidup dalam
keterpautan dengan sesamanya. Dalam hidup bersama dalam sesamanya
(bernasyarakat) setiap individu menempati kedudukan (status) tertentu.
Disamping itu, setiap individu mempunyai dunia dan tujuan hidupnya
masing-masing, mereka juga mempunyai dunia bersama dan tujuan hidup bersama
dengan sesamanya. Selain dengan adanya kesadaran diri, terdapat pula kesadaran
sosial pada manusia. Melalui hidup dengan sesamanyalah manusia akan dapat
mengukuhkan eksistensinya. Sehubungan dengan ini Aristoteles menyebut manusia
sebagai makhluk sosial atau makhluk bermasyarakat.
Setiap
manusia adalah pribadi (individu) dan adanya hubungan pengaruh timbal balik
antara individu dengan sesamanya maka idiealnya situasi hubungan antara
individu dengan sesamanya itu tidak merupakan hubungan anatara subjek dengan
objek, melainkan subjek dengan subjek.
Yang Keempat, MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK BERBUDAYA
Manusia
memiliki inisiatif dan kreatif dalam menciptakan kebudayaan, hidup berbudaya,
dan membudaya. Kebudayaan bukan sesuatu yang ada diluar manusia, bahkan
hakikatnya meluputi perbuatan manusia itu sendiri. Manusia tidak terlepas dari
kebudayaan, bahkan manusia itu baru menjadi manusia karena dan bersama
kebudayaannya (C.A. Vanpeursen,1957). Sejalan dengan ini Ernt Cassirer
menegaskan bahwa “manusia tidak menjadi manusia karena sebuah factor didalam
dirinya, misalnya naluri atau akal budi, melainkan fungsi kehidupannya, yaitu
pekerjaannya, kebudayaanya. Demikianlah kebudayaan termasuk hakikat manusia”
(C.A. Vanpeursen, 1988).
Kebudayaan
tidak bersifat statis, melainkan dinamis. Kodrat dinamika pada diri manusia
mengimplikasiakn adanya perubahan dan pembaharuan kebudayaan. Hal ini tentu
saja didukung pula oleh pengaruh kebudayaan masyarakat atau bangsa lain
terhadap kebudayaan masyarakat yang bersangkutan. Selain itu, mengingat adanya
dampak positif dan negative dari kebudayaan terhadap manusia, masyarakat kadang-kadang
terombang ambing diantara 2 relasi kecenderungan. Disatu pihak ada yang mau
melestarikan bentuk lama (tradisi), sedang yang lain terdorong untuk menciptkan
hal-hal yang baru (inovasi).
Yang Kelima, MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK SUSILA
Dalam
uraian terdahulu telah dikemukakan bahwa manusia sadar akan diri dan
lingkungannya, mempunyai potensi dan kemampuan untuk berpikir, berkehendak
bebas, bertanggung jawab, serta punya potensi untuk berbuat baik. Karna itulah,
eksistensi manusia memiliki aspek kesusilaan.
Sebagai
makhluk yan otonom atau memiliki kebebasan, manusia selalu dihadapkan pada
suatu alternative tindakan yang harus dipilihnya. Adapun kebebasan berbuat ini
juga selalu berhubungan dengan norma-norma moral dan nilai-nilai moral yang
juga harus dipilihnya. Karena manusia mempunyai kebebasan memilih dan
menentukan perbuatannya secara otonom maka selalu ada penilaian moral atau
tuntunan pertanggung jawaban atas perbuatannya.
Yang keenam, MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK BERAGAMA
Aspek
keberagaman merupakan salah satu karakteristik esensial eksistensi
manusia yang terungkap dalam bentuk pengakuan atau keyakinan akan
kebenaran suatu agama yang diwujudkan dalam sikap dan perilaku. Hal ini
terdapat pada manusia manapun, baik dalam rentan waktu (dulu-sekarang-akan
datang) maupun dalam rintang geografis dimana manusia berada. Keberagaman
menyiratkan adanya pengakuan dan pelaksanaan yang sungguh atas suatu agama.
Dilain
pihak, Tuhanpun telah menurunkan wahyu melalui utusan-utusanNya, dan telah
menggelar tanda-tanda di alam semesta untuk dipikirkan manusia agar manusia
beriman dan bertaqwa kepadaNya. Manusia hidup beragama karena agama menyangkut
masalah-masalah yanag bersifat mutlak maka pelaksanaan keberagaman akan tampak
dalam kehidupan sesuai agama yang dianut masing-masing individu. Hal ini baik
berkenaan dengan sistem keyakinannya, sistem peribadatan maupun berkenaan
dengan pelaksanaan tata kaidah yang mengatur hubungan manusia dengan tuhannya,
hubungan manusia dengan manusia serta hubungan manusia dengan alam.
DIMENSI HAKIKAT MANUSIA
Dimensi dalam bahasa latinnya adalah dimensio
merupakan ukuran. Manusia memiliki karakteristik yang membedakannya dengan
hewan, manusia juga memiiki dimensi yang bersifat unik, potensial, dan dinamis.
Ada 4 (empat) macam dimensi manusia:
Yang pertama, Dimensi Individual, maksudnya sebagai mahkluk individu, manusia
bersifat unik dan khas karena tidak ada manusia yang sama persis. Walaupun ada
yang mirip, belum tentu sifatnya sama.
Yang kedua, Dimensi Religius, maksudnya sebagai mahkluk religius, manusia
mengakui adanya kekuatan lain di luar diri manusia yang sifatnya supranatural,
yang secara umum disebut Tuhan.
Yang ketiga, Dimensi Kesosialan, maksudnya manusia disamping sebagai mahluk
individual, dia juga mahluk sosial. Socrates mengatakan manusia adalah “Zoon Politicon” (Mahluk/hewan yang bermasyarakat).
Dimensi kesosialan pada manusia tampak jelas pada dorongan untuk bergaul
manusia tidak dapat hidup seorang diri (terisolir). Manusia hanya akan
menjadi manusia jika berada di antara manusia. Individualitas manusia terbentuk
melalui proses interaksi (pendidikan)
Yang keempat, Dimensi Kesusilaan, maksudnya sebagai mahkluk susila, manusia akan
memunculkan suatu nilai untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk
dalam hubungannya dengan manusia yang lainnya.
Pengembangan Dimensi Hakekat Manusia
Yang pertama, Pengembangan yang Utuh
Tingkat
keutuhan perkembangan dimensi hakekat manusia ditentukan oleh dua faktor,
yaitu kualitas dimensi hakekat manusia itu sendiri secara potensial dan
kualitas pendidkan yang disediakan untuk memberikan pelayanan.
Pengembangan
dimensi hakekat manusia yang utuh diartikan sebagai pembinaan terpadu terhadap
pembinaan dimensi hakekat manusia sehingga dapat tumbuh dan berkembang secara
selaras.Perkembangan yang dimaksud mencakup yang bersifat horizontal (yang
menciptakan keseimbangan) dan yang bersifat vertikal (yang menciptakan
ketinggian martabat manusia). Dengan demikian secara totalitas membentuk
manusia yang utuh.
Yang kedua, Pengembangan yang Tidak Utuh
Pengembangan
yang tidak utuh terdapat dimensi hakekat manusia akan terjadi didalam
proses pengembangan ada unsur dimensi hakekat manusia yang terabaikan
untuk ditangani,misalnya dimensi kesosilaan didominasi oleh pengembangan
dimensi keindividualan ataupun domian afektif didominasi oleh pengembangan
domain kognitif. Pengembangan yang tidak utuh berakibat terbentuknya
kepribadian yang pincang dan tidak mantap.pengembangan yang semacam ini
merupakan pengembangan yang patologis
Jika
dalam mengembangkan dimensi manusia yang baik ada yang terabaikan, maka manusia
itu akan memiliki kepribadian yang tidak mantap.
JENIS – JENIS HAKIKAT MANUSIA
Jenis - jenis hakikat manusia sebagai
berikut.
a. Kodrat adalah sesutau yang tidak bisa
dirubah atau sifat pembawaan alamiah yang terjelma dalam diri manusia itu
ketika diciptakan oleh tuhan.
b. Harkat adalah nilai manusia sebagai
mahluk tuhan yang di bekali cipta,rasa,karsa dan hak-hak serta kewajiban assasi
manusia.
c.
Martabat adalah tingkatan harkat
kemanusiaan dan kedudukan yang terhormat
d. Hak
asasi adalah
sesuatu atau sebuah anugrah yang diberikan oleh tuhan kepada umatnya dari kita
lahir.
e. Kewajiban
manusia terhadap Tuhan yang Maha Esa yaitu: a)
menganut agama, b) beribadah kepada tuhan, c) menunaikan tugas yang di perintah
oleh tuhan dan menjauhi larangannya.
f.
Kewajiban manusia terhadap diri
sendiri yaitu:
a) menjaga diri sendiri baik fisik maupun mental, b) menjaga nama baik
sendiri, c) mengembangkan potensi yang ada pada diri kita sendiri.
g. Kewajiban
manusia terhadap sesama mahluk hidup yaitu:
a) saling membantu satu sama lain (siamotutiprateli), b) toleransi terhadap
orang lain, c) saling menghargai satu sama lain, d) intinya kita semua saudara
h. Kewajiban
manusia terhadap negara dan bangsa yaitu:
a) membentuk karakter atau diri individu berdasarkan pancasila, b) kesadaran
diri wajib bela negara atau bangsa, c) mengabdi kepada manusia sesuai propesi,
d) mengikuti pendidikan kewarganegaraan.
KARAKTERISTIK
MANUSIA
Karakter manusia dapat di bedakan
menjadi 4 karakteristik, yaitu
Yang Pertama yaitu Psikoanalisis
Psikoanalisis merupakan
suatu aliran psikologi dimana individu ini dipengaruhi oleh 3 subsistem yang
mengarahkannya untuk bertindak, salah satu tokoh yang bernama Siegmun Freud menggambarkan
tentang 3 subsistem tersebut yakni id, ego dan super ego. Id merupakan
subsistem yang ada sejak manusia itu dilahirkan, id ini yang mendorong agar
individu tersebut bertindak namun dari alam yang tidak sadar ibarat gunung es
yang mengambang itu yang kelihatan di permukaan hanyalah ujung gunung yang
sedikit, jadi id ini berada di bawah permukaan yakni alam tidak sadar.
Sifat-sifat ini dapat di contohkan dengan sikap egois, bicara yang tidak sopan
dan lain sebagainya, id ini tidak bisa membedakan mana yang baik, benar, salah,
moral atau tidak bermoral. Subsistem yang berikutnya adalah ego yakni subsistem
yang menjembatani id, jadi ego ini menahan id agar tidak sampai melakukan
hal-hal yang yang dirasa perlu dipikirkan lebih dahulu. Misalkan sesorang yang
terserempet mobil, tanpa sadar dia telah mengumpat dan berbicara kasar terhadap
yang telah menyerempet namun, ketika melihat orang tersebut ternyata orang itu
pernah membantunya pada waktu pasti orang tersebut akan berpikir-pikir dulu
akan akan melakukan hal-hal yang telag diprogram oleh id. Ego ini menahan
tindakan-tindakan tersebut. Super ego yakni subsistem yang mengawasi dan
mengontrol jalannya id dan ego sehingga tidak semata-mata seorang tersebut
harus langsung melakukan tindakan-tindakan bawah alam sadar mereka. Tindakan
tersebut dapat dikontrol dengan superego ini. Manusia pasti merasakan proses
ketiga subsistem tersebut dari id ke ego dan sampai ke superego.
Yang Kedua yaitu Behavioristik
Behavioristik
merupakan aliran psikologi dimana seseorang dipengarhi oleh lingkungan, manusia
dalam aliran ini dinamakan dengan homo mechanicus yaitu manusia mesin. Yakni
manusia yang di gerakkan oleh mesin, dia mau bergerak ketika sudah diprogram
dan di suruh untuk bergerak. Pengaruh lingkungan sangat besar jadi seseorang
tersebut langsung terpengaruh dengan apa yang terjadi pada saat itu dan
langsung memberikan rangsangan. Bisa di contohkan seorang anak dapat di bentuk
karakternya menjadi penakut bila anak tersebut ditakut-takuti, anak tersebut
langsung memberikan respon dari apa yang telah diketahuinya.
Yang ketiga, Kognitif
Kognitif
yakni aliran psikologi dimana manusia tersebut masih menggunakan pikirannya
untuk merenung dan berpikir kembali apa yang telah diterimanya, jadi individu
tersebut tidak langsung melakukan respon namun di telaah terlebih dahulu dan di
cari sebabnya mengapa bisa begitu. Kalau behavioristik jika individu itu di
takut-takuti maka akan langsung takut berbeda dengan kognitif, dia akan mencari
tahu kenapa hal tersebut perlu di takuti sehingga ibarat komputer setelah data
itu masuk maka akan di proses dahulu sebelum data itu akan keluar sebagai
output.
Yang keempat, Humanistik
Humanistik merupakan aliran psikologi yang memanusiakan manusia maksudnya
aliran ini meyakinkan manusia tersebut bahwa dalam dirinya itu terdapat
potensi, kretivitas dan kemampuan sehingga individu tersebut dapat bertanggung
jawab atas dirinya.
Tidak
semua individu memiliki keempat kerakteristik tersebut, karena karakteristik
tersbut sifatnya labil dan berubah-ubah tidak mungkin tetap, dimisalkan saja
untuk hari ini bisa jadi individu tersebut humanistic dan hari kemarin bisa
juga kognitif, jadi tidak bisa diklaim yang mana karakteristik orang tersebut
Cuma dapat dibaca ketika individu tersebut bertindak.
DAFTAR
PUSTAKA
Wahyudin,
dkk. 2007. Pengantar Pendidikan. Jakarta:
Pusat Penerbitan Universitas terbuka
No comments:
Post a Comment