Selamat Datang dan Sejahtera Pembaca
yang Budiman,
Aliran-aliran
pendidikan telah dimulai sejak awal hidup manusia, karena setiap kelompok
manusia selalu dihadapkan dengan generasi muda keturunannya yang memerlukan
pendidikan yang lebih baik dari orang tuanya. Di dalam kepustakaan
tentang aliran-aliran pendidikan, pemikiran tentang pendidikan telah dimulai
pada zaman Yunani kuno hingga saat ini. Dalam bahasan tersebut hanya dibatasi
pada beberapa rumpun aliran klasik, kelemahan dan kelebihan dari masing-masing aliran
pendidikan klasik dan pengaruhnya sampai saat ini terhadap pendidikan di Indonesia.
Oleh
karena itu, wajib kiranya sebagai seorang pendidik kita mengetahui mengenai lingkungan
pendidikan. Bahan bacaan yang ada di ambil dari makalah hasil perkuliahan
"pengantar pendidikan", yang telah dipresentasikan oleh Chofifatul Azizah, Susanti Aulia Dewi, Kiki Calista, Mella Dwi Pangesti,
Siskha Amalia Dwi Cahyani, dan Beta Nur Safitri. Mereka adalah teman
satu angkatan (2012), di Pendidikan Guru
Sekolah Dasar (PGSD), Universitas Negeri Malang (UM). Seperti halnya buku
dan karya ilmiah, isi merupakan tanggung jawab penulis.
Berikut
kami sajikan paparannya. Selamat Membaca J
Jangan lupa biasakan like and comment, setelah
membaca atau mengambil tulisan. Silakan kemukakan kritik dan saran secara
bijak. Terima Kasih. (NFY.2016.nurfidayat16@gmail.com).
PENGERTIAN
ALIRAN PENDIDIKAN
Gagasan dan pelaksanaan pendidikan
selalu dinamis sesuai dengan dinamika manusia dan masyarakatnya. Sejak dulu,
kini, maupun di masa depan pendidikan selalu mengalami perkembangan seiring
dengan perkembangan sosio-budaya dan iptek. Aliran-aliran pendidikan adalah
pemikiran-pemikiran yang membawa pembaharuan dalam dunia pendidikan
(Tirtarahardja, 2005:191). Pemikiran tersebut berlangsung seperti suatu diskusi
berkepanjangan, yakni pemikiran-pemikiran terdahulu selalu ditanggapi dengan
pro dan kontra oleh pemikir berikutnya, sehingga timbul pemikiran yang baru,
dan demikian seterusnya. Agar diskusi tidak berkepanjangan dan dapat dipahami,
perlu aspek dari aliran-aliran itu yang harus dipahami. Oleh karena itu setiap
calon tenaga kependidikan harus memahami berbagai aliran-aliran pendidikan agar
dapat menangkap makna setiap gerak dinamika pemikiran-pemikiran dalam
pendidikan.
ALIRAN-ALIRAN
KLASIK PENDIDIKAN
Teori-teori pendidikan yang telah
dikemukakan oleh para ahli pendidikan sebelum abad 19 meliputi berbagai teori
tentang segala usaha pendidikan. Teori yang menonjol pada abad atau aliran
klasik ini salah satunya adalah yang berhubungan dengan perkembangan
manusia/anak didik. Dalam teori ini juga terdapat banyak aliran-aliran, tetapi
yang umum dan dapat dijadikan dasar untuk mengelompokkan teori-teori yang lainnya
adalah sebagai berikut.
1. Aliran Nativisme
Istilah
Nativisme berasal dari kata natives
yang artinya terlahir. Nativisme adalah sebuah doktrin filosofis yang
berpangaruh besar terhadap pemikiran psikologis. Tokoh utama aliran ini adalah
Arthur Schopenhauer (1788-1869), seorang filosofis Jerman. Aliran ini identik
dengan pesimistis yang memandang segala sesuatu dengan kaca mata hitam. Aliran
ini berpendapat bahwa perkembangan manusia itu telah di tentukan oleh
faktor-faktor yang dibawa manusia sejak lahir, pembawaan yang telah terdapat
pada waktu lahir itulah yang menentukan hasil perkembangannya. Menurut aliran
nativisme, pendidikan tidak dapat mengubah sifat-sifat pembawaan. Dalam ilmu pendidikan
pandangan seperti ini disebut pesimistis pedagogis (Purwanto, 1995:59).
Pendidikan
yang tidak sesuai dengan bakat dan pembawaan anak didik tidak akan berguna
untuk perkembangan anak itu sendiri. Bagi nativisme, lingkungan sekitar tidak
mempengaruhi perkembangan anak, penganut aliran ini menyatakan bahwa kalau anak
mempunyai pembawaan jahat maka dia akan menjadi jahat, sebaliknya kalau anak
mempunyai pembawaan baik maka dia akan baik. Pembawaan baik dan buruk ini tidak
dapat diubah dari kekuatan luar (Tirtarahardja, 2005:196).
Jadi
menurut pemaparan di atas telah jelas bahwa pendidikan menurut aliran nativisme
tidak bisa mengubah perkembangan seorang anak atau tidak mempunyai pengaruh
sama sekali. Karena menurut mereka baik buruknya seorang anak ditentukan oleh
pembawaan sejak lahir, dan peran pendidikan di sini hanya sebatas mengembangkan
bakat saja. Misalnya: seorang pemuda sekolah menengah mempunyai bakat musik,
walaupun orang tuanya sering menasehati bahkan memarahinya supaya mau belajar,
tapi pikiran dan perasaanya tetap tertuju pada musik dan dia akan tetap
berbakat menjadi pemusik.
2. Aliran Naturalisme
Nature artinya alam atau yang dibawa
sejak lahir. Aliran ini dipelopori oleh seorang filsof Prancis J.J. Rousseau (1712-1778).
Berbeda dengan nativisme, naturalisme berpendapat bahwa semua anak yang baru
dilahirkan mempunyai pembawaan baik, dan tidak satupun dengan pembawaan buruk.
Bagaimana hasil perkembangannya kemudian sangat ditentukan oleh pendidikan yang
diterimanya atau yang mempengaruhinya. Jika pengaruh itu baik maka akan baiklah
ia akan tetapi jika pengaruh itu jelek, akan jelek pula hasilnya. Seperti dikatakan
oleh tokoh aliran ini yaitu J.J. Rousseau sebagai berikut,”Semua anak adalah
baik pada waktu baru datang dari sang pencipta, tetapi semua rusak di tangan
manusia”. Oleh karena itu, sebagai pendidik Rousseau mengajukan “pendidikan
alam” artinya anak hendaklah dibiarkan tumbuh dan berkembang sendiri menurut
alamnya, manusia atau masyarakat jangan banyak mencampurinya (Purwanto,
1995:59).
Rousseau juga berpendapat bahwa pendidikan yang diberikan
orang dewasa malahan dapat merusak pembawaan anak yang baik itu, aliran ini juga disebut
negativisme. Jadi dengan kata lain
pendidikan tidak diperlukan. Yang dilaksanakan adalah menyerahkan anak didik ke
alam, agar pembawaan yang baik itu tidak menjadi rusak oleh tangan manusia
melalui proses dan kegiatan pendidikan itu. Rousseau ingin menjauhkan anak dari
segala keburukan masyarakat yang serba dibuat-buat (artificial) sehingga kebaikan anak-anak yang diperoleh secara
alamiah sejak saat kelahirannya itu dapat tampak secara spontan dan bebas. Ia
mengusulkan perlunya permainan bebas kepada anak didik untuk mengembangkan
pembawaannya, kemampuannya dan kecenderungannya (Tirtarahardja, 2005:198).
Jadi menurut aliran ini pendidikan harus dijauhkan dari
anak-anak. Seperti diketahui, gagasan naturalisme yang menolak campur tangan
pendidikan, sampai saat ini malahan terbukti sebaliknya pendidikan makin lama
makin diperlukan.
3. Aliran Empirisme
Aliran
empirisme dipelopori oleh seorang filsuf Inggris bernama John
Locke (1632-1704) yang mengembangkan teori “Tabula Rasa” yaitu anak lahir di
dunia bagaikan kertas putih yang bersih. Pengalaman empirik yang diperoleh dari
lingkungan akan berpengaruh besar dalam menentukan perkembangan anak. Menurut
pandangan empirisme, pendidik memegang peranan yang sangat penting sebab
pendidik dapat menyediakan lingkungan pendidikan kepada anak dan akan diterima
oleh anak sebagai pengalaman. Pengalaman itu tentunya sesuai dengan tujuan
pendidikan (Tirtarahardja, 2005:195).
Aliran empirisme berpendapat berlawanan dengan aliran
nativisme karena berpendapat bahwa dalam perkembangan anak menjadi manusia
dewasa itu sama sekali ditentukan oleh lingkungannya atau oleh pendidikan dan
pengalaman yang diterimanya sejak kecil. Manusia-manusia dapat dididik menjadi
apa saja (ke arah yang baik maupun ke arah yang buruk) menurut kehendak
lingkungan atau pendidikannya. Dalam pendidikan pendapat kaum empiris ini
terkenal dengan nama optimisme pedagogis (Purwanto, 1995:59).
Kaum behaviouris pun sependapat dengan kaum empiris, sebagai
contoh dikemukakan di sini kata-kata Waston, seorang behaviouris tulen dari
Amerika, ”Berilah saya sejumlah anak yang baik keadaan badannya dan situasi
yang saya butuhkan, dan dari setiap orang anak, entah yang mana dapat saya
jadikan dokter, seorang pedagang, seorang ahli hukum, atau jika memang
dikehendaki menjadi seorang pengemis atau pencuri” (Purwanto, 1995:59). Betapa optimisnya aliran ini
semuanya tergantung dari lingkungan, atau pendidikanlah penentu segalanya.
Aliran empirisme dipandang berat sebelah sebab hanya
mementingkan peran pengalaman yang diperoleh dari lingkungan. Sedangkan
kemampuan dasar yang dibawa anak sejak lahir dianggap tidak menentukan. Menurut
kenyataan dalam kehidupan sehari-hari terdapat anak yang berhasil karena
berbakat meskipun lingkungan sekitarnya tidak mendukung. Keberhasilan ini
disebabkan oleh adanya kemampuan yang berasal dari dalam diri yang berupa kecerdasan
atau kemauan keras, anak berusaha mendapatkan lingkungan yang dapat
mengembangkan bakat atau kemampuan yang telah ada dalam dirinya.
4. Aliran Konvergensi
Aliran
konvergensi dipelopori oleh William Stern (1871-1939), seorang
ahli pendidikan bangsa Jerman yang berpendapat bahwa seorang anak dilahirkan di
dunia sudah disertai pembawaan baik maupun buruk. Penganut aliran ini
berpendapat bahwa dalam proses perkembangan anak, baik faktor pembawaan maupun
faktor lingkungan sama-sama mempunyai peranan yang sangat penting. Bakat yang
dibawa pada waktu lahir tidak akan berkembang dengan baik tanpa adanya dukungan
lingkungan yang sesuai untuk perkembangan bakat itu. Sebaliknya, lingkungan
yang baik tidak dapat menghasilkan perkembangan anak yang optimal kalau memang
pada diri anak tidak terdapat bakat yang diperlukan untuk mengembangkan bakat
itu (Tirtarahardja, 2005:198).
Sebagai contoh pada hakikatnya kemampuan anak berbahasa
dengan kata-kata, adalah juga hasil konvergensi. Pada anak manusia ada pebawaan
untuk berbicara dan melalui situasi lingkungannya anak belajar berbicara dalam
bahasa tertentu. Lingkungan pun mempengaruhi anak didik dalam mengembangkan
pembawaan bahasanya, karena itu anak manusia mula-mula menggunakan bahasa
lingkungannya.
William
Stern berpendapat bahwa hasil pendidikan itu tergantung dari pembawaan dan
lingkungan, seakan-akan dua garis yang menuju ke satu titik pertemuan. Karena itu teori W. Stern disebut teori konvergensi (memusatkan
ke satu titik). Jadi menurut teori konvergensi: (1) pendidikan mungkin untuk
dilaksanakan, (2) pendidikan diartikan sebagai pertolongan yang diberikan
lingkungan kepada anak didik untuk mengembangkan potensi yang baik dan mencegah
berkembangnya potensi yang kurang baik, dan (3) yang membatasi hasil pendidikan
adalah pembawaan dan lingkungan (Tirtarahardja, 2005:199).
Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa semua yang
berkembang dalam diri suatu individu ditentukan oleh pembawaan dan juga oleh
lingkungannya. Seorang anak dapat berkata-kata juga dipengaruhi oleh dua
faktor, pembawaan dan lingkungan. Jika salah satu dari kedua faktor itu tidak
ada, tidaklah mungkin kepandaian berkata-kata dapat berkembang.
Jadi, aliran konvergensi menganggap
bahwa pendidikan sangat bergantung pada faktor pembawaan atau bakat dan lingkungan. Hanya saja
William Stern tidak menerangkan seberapa besar perbandingan pengaruh kedua faktor
tersebut.
KELEBIHAN DAN KELEMAHAN ALIRAN
PENDIDIKAN KLASIK
Dari
masing-masing aliran klasik dalam pendidikan pasti memiliki kelebihan dan
kelemahan. Berikut ini akan dijelaskan tentang kelebihan dan kelemahan aliran
klasik dalam pendidikan.
1.
Aliran
Nativisme
Aliran ini berpendapat
bahwa perkembangan manusia itu telah ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa
manusia sejak lahir, pembawaan yang telah terdapat pada waktu lahir itulah yang
menentukan hasil perkembangannya. Menurut aliran nativisme, pendidikan tidak
dapat mengubah sifat-sifat pembawaan.
2.
Aliran
Naturalisme
Aliran ini berpandangan bahwa setiap
anak yang lahir di dunia mempunyai pembawaan baik. Kelemahnnya adalah faktor
lingkungan dengan pengertian apabila lingkungan di sekitar itu tidak baik maka
akan mempengaruhi sikap ataupun sifat individu tersebut.
3.
Aliran
Empirisme
Menurut aliran ini, pendidik sebagai faktor luar memegang
peranan sangat penting, sebab pendidik menyediakan lingkungan pendidikan bagi
anak dan anak akan menerima pendidikan sebagai pengalaman. Pengalaman tersebut
akan membentuk tingkah laku, sikap, serta watak anak sesuai dengan tujuan
pendidikan.
Kelemahan aliran ini adalah hanya
mementingkan pengalaman. Sedangkan kemampuan dasar yang dibawa anak sejak lahir
dikesampingkan. Padahal , ada anak yang berbakat dan berhasil meskipun
lingkungan tidak mendukung.
4.
Aliran
Konvergensi
Aliran konvergensi dipengaruhi oleh
dua faktor yaitu lingkungan yang baik dan lingkungan yang buruk, lingkungan
yang baik akan membawa bakat anak tumbuh dan berkembang menjadi potensi yang
sangat berpengaruh pada perkembangan karakter dan kemampuan anak tersebut.
Sedangkan faktor lingkungan yang tidak mendukung akan mempengaruhi tumbuh
kembang anak menjadi tidak berpotensi.
Dari beberapa aliran di atas dapat
disimpulkan kekurangan dan kelebihannya adalah ditentukan oleh faktor
lingkungan.
PENGARUH ALIRAN PENDIDIKAN KLASIK
TERHADAP PENDIDIKAN DI INDONESIA
Indonesia merupakan
wilayah yang memiliki SDA, iklim, populasi Geografi, tradisi dan bahsa yang
sangat beragam. Hal tersebut menyebabkan aliran-aliran pendidikan yang tertanam
dan sudah dipraktekkan dalam masyarakat berbeda-beda hasilnya. Indonesia yang
termasuk dalam kelompok negara berkembang yang biasanya mempunyai ciri-ciri
berpenduduk padat dan belum tingginya perekonomian menyebabkan pendidikan dan
fasilitas di dalamnya belum maksimal.
Rendahnya kependidikan di
Indonesia sebenarnya dimulai dari rendahnya perekonomian masyarakat
Indonesia yang notabene adalah petani biasa yang tanpa teknologi. Hal tersebut
mempengaruhi pola pikir masyarakat dalam menyikapi aliran-aliran klasik
pendidikan yang ada. Sebenarnya,
semua itu dikarenakan karena Indonesia merupakan negara berkembang sehingga ada
banyak masalah yang timbul dalam negara kita. Contoh kecil dari pengaruh aliran
pendidikan ini misalnya pada aliran empirisme yaitu, timbulnya perdebatan antar
penganut aliran pendidikan yang berbeda. Contohnya seperti kebijakan pemerintah
yang mewajibkan kepada masyarakat tentang wajib belajar 12 tahun sedangkan pada
kenyataannya masih banyak penduduk terpencil yang masih tidak mengutamakan
pendidikan dan lebih mengutamakan pekerjaan.
DAFTAR PUSTAKA
Purwanto, M.
Ngalim. 1995. Ilmu Pendidikan Teoritis
dan Praktis. Bandung: Remaja Rosda
Karya.
Tirtarahardja,
Umar dan La Sulo, S.L. 2005. Pengantar
Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun
2003
No comments:
Post a Comment