Sunday, October 23, 2016

ALIRAN-ALIRAN PENDIDIKAN


Selamat Datang dan Sejahtera Pembaca yang Budiman,


Aliran-aliran pendidikan telah dimulai sejak awal hidup manusia, karena setiap kelompok manusia selalu dihadapkan dengan generasi muda keturunannya yang memerlukan pendidikan yang lebih baik dari orang tuanya. Di dalam kepustakaan tentang aliran-aliran pendidikan, pemikiran tentang pendidikan telah dimulai pada zaman Yunani kuno hingga saat ini. Dalam bahasan tersebut hanya dibatasi pada beberapa rumpun aliran klasik, kelemahan dan kelebihan dari masing-masing aliran pendidikan klasik dan pengaruhnya sampai saat ini terhadap pendidikan di Indonesia.
Oleh karena itu, wajib kiranya sebagai seorang pendidik kita mengetahui mengenai lingkungan pendidikan. Bahan bacaan yang ada di ambil dari makalah hasil perkuliahan "pengantar pendidikan", yang telah dipresentasikan oleh Chofifatul Azizah, Susanti Aulia Dewi, Kiki Calista, Mella Dwi Pangesti, Siskha Amalia Dwi Cahyani, dan Beta Nur Safitri. Mereka adalah teman satu angkatan (2012), di Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Universitas Negeri Malang (UM). Seperti halnya buku dan karya ilmiah, isi merupakan tanggung jawab penulis.
Berikut kami sajikan paparannya. Selamat Membaca J Jangan lupa biasakan like and comment, setelah membaca atau mengambil tulisan. Silakan kemukakan kritik dan saran secara bijak. Terima Kasih. (NFY.2016.nurfidayat16@gmail.com).

PENGERTIAN ALIRAN PENDIDIKAN

Gagasan dan pelaksanaan pendidikan selalu dinamis sesuai dengan dinamika manusia dan masyarakatnya. Sejak dulu, kini, maupun di masa depan pendidikan selalu mengalami perkembangan seiring dengan perkembangan sosio-budaya dan iptek. Aliran-aliran pendidikan adalah pemikiran-pemikiran yang membawa pembaharuan dalam dunia pendidikan (Tirtarahardja, 2005:191). Pemikiran tersebut berlangsung seperti suatu diskusi berkepanjangan, yakni pemikiran-pemikiran terdahulu selalu ditanggapi dengan pro dan kontra oleh pemikir berikutnya, sehingga timbul pemikiran yang baru, dan demikian seterusnya. Agar diskusi tidak berkepanjangan dan dapat dipahami, perlu aspek dari aliran-aliran itu yang harus dipahami. Oleh karena itu setiap calon tenaga kependidikan harus memahami berbagai aliran-aliran pendidikan agar dapat menangkap makna setiap gerak dinamika pemikiran-pemikiran dalam pendidikan.

ALIRAN-ALIRAN KLASIK PENDIDIKAN

Teori-teori pendidikan yang telah dikemukakan oleh para ahli pendidikan sebelum abad 19 meliputi berbagai teori tentang segala usaha pendidikan. Teori yang menonjol pada abad atau aliran klasik ini salah satunya adalah yang berhubungan dengan perkembangan manusia/anak didik. Dalam teori ini juga terdapat banyak aliran-aliran, tetapi yang umum dan dapat dijadikan dasar untuk mengelompokkan teori-teori yang lainnya adalah sebagai berikut.

1.     Aliran Nativisme
Istilah Nativisme berasal dari kata natives yang artinya terlahir. Nativisme adalah sebuah doktrin filosofis yang berpangaruh besar terhadap pemikiran psikologis. Tokoh utama aliran ini adalah Arthur Schopenhauer (1788-1869), seorang filosofis Jerman. Aliran ini identik dengan pesimistis yang memandang segala sesuatu dengan kaca mata hitam. Aliran ini berpendapat bahwa perkembangan manusia itu telah di tentukan oleh faktor-faktor yang dibawa manusia sejak lahir, pembawaan yang telah terdapat pada waktu lahir itulah yang menentukan hasil perkembangannya. Menurut aliran nativisme, pendidikan tidak dapat mengubah sifat-sifat pembawaan. Dalam ilmu pendidikan pandangan seperti ini disebut pesimistis pedagogis (Purwanto, 1995:59).
Pendidikan yang tidak sesuai dengan bakat dan pembawaan anak didik tidak akan berguna untuk perkembangan anak itu sendiri. Bagi nativisme, lingkungan sekitar tidak mempengaruhi perkembangan anak, penganut aliran ini menyatakan bahwa kalau anak mempunyai pembawaan jahat maka dia akan menjadi jahat, sebaliknya kalau anak mempunyai pembawaan baik maka dia akan baik. Pembawaan baik dan buruk ini tidak dapat diubah dari kekuatan luar (Tirtarahardja, 2005:196).
Jadi menurut pemaparan di atas telah jelas bahwa pendidikan menurut aliran nativisme tidak bisa mengubah perkembangan seorang anak atau tidak mempunyai pengaruh sama sekali. Karena menurut mereka baik buruknya seorang anak ditentukan oleh pembawaan sejak lahir, dan peran pendidikan di sini hanya sebatas mengembangkan bakat saja. Misalnya: seorang pemuda sekolah menengah mempunyai bakat musik, walaupun orang tuanya sering menasehati bahkan memarahinya supaya mau belajar, tapi pikiran dan perasaanya tetap tertuju pada musik dan dia akan tetap berbakat menjadi pemusik.

2.     Aliran Naturalisme
Nature artinya alam atau yang dibawa sejak lahir. Aliran ini dipelopori oleh seorang filsof Prancis J.J. Rousseau (1712-1778). Berbeda dengan nativisme, naturalisme berpendapat bahwa semua anak yang baru dilahirkan mempunyai pembawaan baik, dan tidak satupun dengan pembawaan buruk. Bagaimana hasil perkembangannya kemudian sangat ditentukan oleh pendidikan yang diterimanya atau yang mempengaruhinya. Jika pengaruh itu baik maka akan baiklah ia akan tetapi jika pengaruh itu jelek, akan jelek pula hasilnya. Seperti dikatakan oleh tokoh aliran ini yaitu J.J. Rousseau sebagai berikut,”Semua anak adalah baik pada waktu baru datang dari sang pencipta, tetapi semua rusak di tangan manusia”. Oleh karena itu, sebagai pendidik Rousseau mengajukan “pendidikan alam” artinya anak hendaklah dibiarkan tumbuh dan berkembang sendiri menurut alamnya, manusia atau masyarakat jangan banyak mencampurinya (Purwanto, 1995:59).
Rousseau juga berpendapat bahwa pendidikan yang diberikan orang dewasa malahan dapat merusak pembawaan anak  yang baik itu, aliran ini juga disebut negativisme. Jadi dengan kata lain pendidikan tidak diperlukan. Yang dilaksanakan adalah menyerahkan anak didik ke alam, agar pembawaan yang baik itu tidak menjadi rusak oleh tangan manusia melalui proses dan kegiatan pendidikan itu. Rousseau ingin menjauhkan anak dari segala keburukan masyarakat yang serba dibuat-buat (artificial) sehingga kebaikan anak-anak yang diperoleh secara alamiah sejak saat kelahirannya itu dapat tampak secara spontan dan bebas. Ia mengusulkan perlunya permainan bebas kepada anak didik untuk mengembangkan pembawaannya, kemampuannya dan kecenderungannya (Tirtarahardja, 2005:198).
Jadi menurut aliran ini pendidikan harus dijauhkan dari anak-anak. Seperti diketahui, gagasan naturalisme yang menolak campur tangan pendidikan, sampai saat ini malahan terbukti sebaliknya pendidikan makin lama makin diperlukan.

3.     Aliran Empirisme
Aliran empirisme dipelopori oleh seorang filsuf Inggris bernama John Locke (1632-1704) yang mengembangkan teori “Tabula Rasa” yaitu anak lahir di dunia bagaikan kertas putih yang bersih. Pengalaman empirik yang diperoleh dari lingkungan akan berpengaruh besar dalam menentukan perkembangan anak. Menurut pandangan empirisme, pendidik memegang peranan yang sangat penting sebab pendidik dapat menyediakan lingkungan pendidikan kepada anak dan akan diterima oleh anak sebagai pengalaman. Pengalaman itu tentunya sesuai dengan tujuan pendidikan (Tirtarahardja, 2005:195).
Aliran empirisme berpendapat berlawanan dengan aliran nativisme karena berpendapat bahwa dalam perkembangan anak menjadi manusia dewasa itu sama sekali ditentukan oleh lingkungannya atau oleh pendidikan dan pengalaman yang diterimanya sejak kecil. Manusia-manusia dapat dididik menjadi apa saja (ke arah yang baik maupun ke arah yang buruk) menurut kehendak lingkungan atau pendidikannya. Dalam pendidikan pendapat kaum empiris ini terkenal dengan nama optimisme pedagogis (Purwanto, 1995:59).
Kaum behaviouris pun sependapat dengan kaum empiris, sebagai contoh dikemukakan di sini kata-kata Waston, seorang behaviouris tulen dari Amerika, ”Berilah saya sejumlah anak yang baik keadaan badannya dan situasi yang saya butuhkan, dan dari setiap orang anak, entah yang mana dapat saya jadikan dokter, seorang pedagang, seorang ahli hukum, atau jika memang dikehendaki menjadi seorang pengemis atau pencuri” (Purwanto, 1995:59). Betapa optimisnya  aliran ini semuanya tergantung dari lingkungan, atau pendidikanlah penentu segalanya.
Aliran empirisme dipandang berat sebelah sebab hanya mementingkan peran pengalaman yang diperoleh dari lingkungan. Sedangkan kemampuan dasar yang dibawa anak sejak lahir dianggap tidak menentukan. Menurut kenyataan dalam kehidupan sehari-hari terdapat anak yang berhasil karena berbakat meskipun lingkungan sekitarnya tidak mendukung. Keberhasilan ini disebabkan oleh adanya kemampuan yang berasal dari dalam diri yang berupa kecerdasan atau kemauan keras, anak berusaha mendapatkan lingkungan yang dapat mengembangkan bakat atau kemampuan yang telah ada dalam dirinya.

4.     Aliran Konvergensi
Aliran konvergensi dipelopori oleh William Stern (1871-1939), seorang ahli pendidikan bangsa Jerman yang berpendapat bahwa seorang anak dilahirkan di dunia sudah disertai pembawaan baik maupun buruk. Penganut aliran ini berpendapat bahwa dalam proses perkembangan anak, baik faktor pembawaan maupun faktor lingkungan sama-sama mempunyai peranan yang sangat penting. Bakat yang dibawa pada waktu lahir tidak akan berkembang dengan baik tanpa adanya dukungan lingkungan yang sesuai untuk perkembangan bakat itu. Sebaliknya, lingkungan yang baik tidak dapat menghasilkan perkembangan anak yang optimal kalau memang pada diri anak tidak terdapat bakat yang diperlukan untuk mengembangkan bakat itu (Tirtarahardja, 2005:198).
Sebagai contoh pada hakikatnya kemampuan anak berbahasa dengan kata-kata, adalah juga hasil konvergensi. Pada anak manusia ada pebawaan untuk berbicara dan melalui situasi lingkungannya anak belajar berbicara dalam bahasa tertentu. Lingkungan pun mempengaruhi anak didik dalam mengembangkan pembawaan bahasanya, karena itu anak manusia mula-mula menggunakan bahasa lingkungannya.
William Stern berpendapat bahwa hasil pendidikan itu tergantung dari pembawaan dan lingkungan, seakan-akan dua garis yang menuju ke satu titik pertemuan. Karena itu teori W. Stern disebut teori konvergensi (memusatkan ke satu titik). Jadi menurut teori konvergensi: (1) pendidikan mungkin untuk dilaksanakan, (2) pendidikan diartikan sebagai pertolongan yang diberikan lingkungan kepada anak didik untuk mengembangkan potensi yang baik dan mencegah berkembangnya potensi yang kurang baik, dan (3) yang membatasi hasil pendidikan adalah pembawaan dan lingkungan (Tirtarahardja, 2005:199).
Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa semua yang berkembang dalam diri suatu individu ditentukan oleh pembawaan dan juga oleh lingkungannya. Seorang anak dapat berkata-kata juga dipengaruhi oleh dua faktor, pembawaan dan lingkungan. Jika salah satu dari kedua faktor itu tidak ada, tidaklah mungkin kepandaian berkata-kata dapat berkembang.
Jadi, aliran konvergensi menganggap bahwa pendidikan sangat bergantung pada faktor pembawaan atau bakat dan lingkungan. Hanya saja William Stern tidak menerangkan seberapa besar perbandingan pengaruh kedua faktor tersebut.

KELEBIHAN DAN KELEMAHAN ALIRAN PENDIDIKAN KLASIK

Dari masing-masing aliran klasik dalam pendidikan pasti memiliki kelebihan dan kelemahan. Berikut ini akan dijelaskan tentang kelebihan dan kelemahan aliran klasik dalam pendidikan.

1.     Aliran Nativisme
 Aliran ini berpendapat bahwa perkembangan manusia itu telah ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa manusia sejak lahir, pembawaan yang telah terdapat pada waktu lahir itulah yang menentukan hasil perkembangannya. Menurut aliran nativisme, pendidikan tidak dapat mengubah sifat-sifat pembawaan.

2.     Aliran Naturalisme
Aliran ini berpandangan bahwa setiap anak yang lahir di dunia mempunyai pembawaan baik. Kelemahnnya adalah faktor lingkungan dengan pengertian apabila lingkungan di sekitar itu tidak baik maka akan mempengaruhi sikap ataupun sifat individu tersebut.

3.     Aliran Empirisme
Menurut aliran ini, pendidik sebagai faktor luar memegang peranan sangat penting, sebab pendidik menyediakan lingkungan pendidikan bagi anak dan anak akan menerima pendidikan sebagai pengalaman. Pengalaman tersebut akan membentuk tingkah laku, sikap, serta watak anak sesuai dengan tujuan pendidikan.
Kelemahan aliran ini adalah hanya mementingkan pengalaman. Sedangkan kemampuan dasar yang dibawa anak sejak lahir dikesampingkan. Padahal , ada anak yang berbakat dan berhasil meskipun lingkungan tidak mendukung.

4.     Aliran Konvergensi
Aliran konvergensi dipengaruhi oleh dua faktor yaitu lingkungan yang baik dan lingkungan yang buruk, lingkungan yang baik akan membawa bakat anak tumbuh dan berkembang menjadi potensi yang sangat berpengaruh pada perkembangan karakter dan kemampuan anak tersebut. Sedangkan faktor lingkungan yang tidak mendukung akan mempengaruhi tumbuh kembang anak menjadi tidak berpotensi.
Dari beberapa aliran di atas dapat disimpulkan kekurangan dan kelebihannya adalah ditentukan oleh faktor lingkungan.

PENGARUH ALIRAN PENDIDIKAN KLASIK
TERHADAP PENDIDIKAN DI INDONESIA

Indonesia merupakan wilayah yang memiliki SDA, iklim, populasi Geografi, tradisi dan bahsa yang sangat beragam. Hal tersebut menyebabkan aliran-aliran pendidikan yang tertanam dan sudah dipraktekkan dalam masyarakat berbeda-beda hasilnya. Indonesia yang termasuk dalam kelompok negara berkembang yang biasanya mempunyai ciri-ciri berpenduduk padat dan belum tingginya perekonomian menyebabkan pendidikan dan fasilitas di dalamnya belum maksimal.
Rendahnya kependidikan di Indonesia  sebenarnya dimulai dari rendahnya perekonomian masyarakat Indonesia yang notabene adalah petani biasa yang tanpa teknologi. Hal tersebut mempengaruhi pola pikir masyarakat dalam menyikapi aliran-aliran klasik pendidikan yang ada. Sebenarnya, semua itu dikarenakan karena Indonesia merupakan negara berkembang sehingga ada banyak masalah yang timbul dalam negara kita. Contoh kecil dari pengaruh aliran pendidikan ini misalnya pada aliran empirisme yaitu, timbulnya perdebatan antar penganut aliran pendidikan yang berbeda. Contohnya seperti kebijakan pemerintah yang mewajibkan kepada masyarakat tentang wajib belajar 12 tahun sedangkan pada kenyataannya masih banyak penduduk terpencil yang masih tidak mengutamakan pendidikan dan lebih mengutamakan pekerjaan.

DAFTAR PUSTAKA

Purwanto, M. Ngalim. 1995. Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis. Bandung:  Remaja Rosda Karya.

Tirtarahardja, Umar dan La Sulo, S.L. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.


Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003

No comments:

Post a Comment