Selamat Datang dan Sejahtera Pembaca
yang Budiman,
Pendidikan merupakan
usaha sadar dan terencana untuk mengembangkan ranah kognitif, afektif, dan
psikomotor peserta didik melalui kegiatan pembelajaran yang mengakomodir
keaktifan siswa. Oleh karena itu, wajib kiranya sebagai seorang pendidik kita
mengetahui mengenai hakikat pendidikan itu sendiri.
Bahan bacaan yang ada
di ambil dari makalah hasil perkuliahan "pengantar pendidikan", yang
telah dipresentasikan oleh Prayoga Tri Kurniawan, Al-Aliyyu Riantika, Iftia Amilatus Sholikah, Ayu Puspita Putri, Dian Sukmawati. Mereka adalah teman satu
angkatan (2012), di Pendidikan Guru
Sekolah Dasar (PGSD), Universitas Negeri Malang (UM). Seperti halnya buku
dan karya ilmiah, isi merupakan tanggung jawab penulis.
Berikut kami sajikan
paparannya. Selamat Membaca J
Jangan lupa biasakan like and comment, setelah
membaca atau mengambil tulisan. Silakan kemukakan kritik dan saran secara
bijak. Terima Kasih. (NFY.2016.nurfidayat16@gmail.com).
HAKIKAT PENDIDIKAN
Pada dasarnya pendidikan ialah
kegiatan mendidik manusia menjadi manusia sehingga hakikat atau inti dari
pendidikan tidak akan terlepas dari hakikat manusia, sebab urusan utama
pendidikan adalah manusia. Wawasan yang dianut oleh pendidik tentang manusia
akan mempengaruhi strategi atau metode yang digunakan dalam melaksanakan
tugasnya. Kita sepakat bahwa pendidikan merupakan sesuatu yang tidak
asing bagi kita, terlebih lagi karena kita bergerak di bidang
pendidikan. Juga pasti kita sepakat bahwa pendidikan diperlukan oleh semua
orang. Bahkan dapat dikatakan bahwa pendidikan ini dialami oleh semua manusia
dari semua golongan. Tetapi sering kali orang melupakan makna dan hakikat
pendidikan itu sendiri. Layaknya hal lain yang sudah menjadi rutinitas,
cenderung terlupakan makna dasar dan hakikatnya. Karena itu benarlah kalau
dikatakan bahwa setiap orang yang terlihat dalam dunia pendidikan sepatutnyalah
selalu merenungkan makna dan hakikat pendidikan, merefleksikannya di
tengah-tengah tindakan/aksi sebagai buah refleksinya.
Pada
dasarnya pendidikan harus dilihat sebagai proses dan sekaligus sebagai tujuan.
Individu menjadi manusia karena proses pembelajaran atau proses interaksi
manusiawi dengan manusia lain. Ini mengandung arti bahwa proses interaksi dalam
kehidupan sosial menjadi salah satu panutan atau komponen pembentuk hakikat
pendidikan yang dimengerti sebagai suatu proses memanusiakan manusia. Jadi
pendidikan sebagai proses menjadikan subjek didik untuk menjadi dirinya
sendiri, yang berlangsung sepanjang hayat. Diambil dan Adaptasi dari (Tata
Abdulah. 2004. Landasan dan Prinsip Pendidikan Umum (Makalah). Bandung: Sekolah
Pascasarjana UPI Bandung)
Beberapa Asumsi Dasar yang
Berkaitan dengan Hakikat Pendidikan sebagai berikut :
1. Pendidikan
merupakan proses interaksi manusia yang ditandai oleh keseimbangan antara
kedaulatan subjek didik dengan kewibawaan
pendidik.
2. Pendidikan
merupakan usaha penyiapan subjek didik menghadapi lingkungan hidup yang mengalami
perubahan yang semakin pesat.
3. Pendidikan
meningkatkan kualitas kehidupan pribadi dan masyarakat.
4. Pendidikan
berlangsung seumur hidup.
5. Pendidikan
merupakan kiat dalam menerapkan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan dan teknologi
bagi pembentukan manusia seutuhnya.
Menurut pandangan Paula Freire pendidikan adalah proses pengaderan
dengan hakikat tujuannya adalah pembebasan. Hakikat pendidikan adalah kemampuan
untuk mendidik diri sendiri. Dengan demikian hakikat pendidikan adalah sangat
ditentukan oleh nilai-nilai, motivasi dan tujuan dari pendidikan itu sendiri. Peserta didik, anak manusia, tidak hidup secara terisolasi tetapi dia
hidup dan berkembang di dalam suatu masyarakat tertentu, yang berbudaya, yang
mempunyai visi terhadap kehidupan di masa depan, termasuk kehidupan pasca
kehidupan, yaitu pendekatan holistik integratif dan pendekatan redaksional. Teori-teori
atau pendekatan redaksional sangat banyak dikemukakan di dalam khazanah ilmu
pendidikan. Dalam hal ini akan dibicarakan berbagai pendekatan redaksional
sebagai berikut:
1. Pendekatan pedagogis atau pedagogisme. yaitu
titik tolak dari teori ini ialah anak yang akan di besarkan menjadi manusia
dewasa. Pandangan ini apakah berupa pandangan nativisme schopenhouer serta
menganut penganutnya yang beranggapan bahwa anak telah mempunyai
kemampuan-kemampuan yang dilahirkan dan tinggal di kembangkan saja.
2. Pendekatan Filasofis atau filosofisme. Anak manusia mempunyai hakikatnya
sendiri dan berada dengan hakikat orang dewasa. Oleh sebab itu, proses
pendewasaan anak bertitik-tolak dari anak sebagai anak manusia yang mempunyai
tingkat-tingkat perkembangan sendiri.
3. Pendekatan religius atau religionisme. Pendekatan religius atau
religionisme dianut oleh pemikir-pemikir yang melihat hakikat manusia sebagai
makhluk yang religius. Namun demikian kemajuan ilmu pengetahuan yang sekuler
tidak menjawab terhadap kehidupan yang bermoral.
4. Pendekatan psikologis atau psikologisme. Pandangan-pandangan pedagogisme
seperti yang telah diuraikan telah lebih memacu masuknya psikologi ke dalam
bidang ilmu pendidikan hal tersebut telah mempersempit pandangan para pendidik
seakan-akan ilmu pendidikan terbatas kepada ilmu mengajar saja.
5. Pendekatan negativis atau negativism. Pendidikan ialah menjaga
pertumbuhan anak. Dengan demikian pandangan negativisme ini melihat bahwa
segala sesuatu seakan-akan telah tersedia di dalam diri anak yang bertumbuh
dengan baik apabila tidak dipengaruhi oleh hal-hal yang merugikan pertumbuhan
tersebut.
6. Pendekatan sosiologis atau sosiologism. Pandangan sosiologisme cenderung
berlawanan arah dengan pedagogisme. Titik-tolak dari pandangan ini ialah
prioritas kepada kebutuhan masyarakat dan bukan kepada kebutuhan individu.
Peserta didik adalah anggota
masyarakat. Dalam sejarah perkembangan manusia kita lihat bahwa tuntutan
masyarakat tidak selalu etis. Versi yang lain dari pandangan ini ialah develop
mentalisme. Proses pendidikan diarahkan kepada pencapaian target-target
tersebut dan tidak jarang nilai-nilai kemanusiaan disubordinasikan untuk
mencapai target pembangunan. Pengalaman pembangunan Indonesia selama Orde Baru
telah mengarah kepada paham developmentalisme yang menekan kepada pencapaian
pertumbuhan yang tinggi, target pemberantasan buta huruf, target pelaksanaan
wajib belajar 9 dan 12 tahun. Salah satu pandangan sosiologisme yang sangat
populer adalah konsiensialisme yang dikumandangkan oleh ahli pikir pendidikan terkenal
Paulo Freire.
Pendidikan yang dikumandangkan oleh
Freire ini yang juga dikenal sebagai pendidikan pembebasan pendidikan adalah
proses pembebasan. Konsiensialisme yang dikumandangkan Freire merupakan suatu
pandangan pendidikan yang sangat mempunyai kadar politis karena dihubungkan
dengan situasi kehidupan politik terutama di negara-negara Amerika Latin. Paulo
Freire di dalam pendidikan pembebasan melihat fungsi atau hakikat pendidikan
sebagai pembebasan manusia dari berbagai penindasan. Sekolah adalah lembaga
sosial yang pada umumnya mempresentasi kekuatan-kekuatan sosial politik yang
ada agar menjaga status quo hukum membebaskan manusia dari tirani kekuasaan.
Qua atau di dalam istilah Polo Freire “kapitalisme yang licik”. Sekolah harus
berfungsi membangkitkan kesadaran bahwa manusia adalah bebas.
Demikian hal ini juga ditegaskan
oleh Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional merumuskan pengelolaan
situasi pendidikan dengan asas pengendalian kependidikan yang terkenal dengan
ajarannya Ing ngarso sung tulodo
(jika di depan menjadi teladan), Ing madyo
mangun karso (jika di tengah-tengah membangkitkan hasrat untuk be1ajar),
dan Tut wuri handayani (jika di
be1akang, memberi dorongan). Dalam keadaan pendidikan seperti tergambar dan
dibarengi dengan kedinamisan peranan pendidik, maka akan memungkinkan
keterlibatan mental subjek didik yang maksimal untuk mengaktualisasikan
pengalaman belajarnya, Konsep inilah yang dinamakan Cara Belajar siswa Aktif,
yang pada hakikatnya bertujuan untuk peningkatan martabat kemanusiaan yang
didasarkan pada asas Pancasila untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.
Hakikat pendidikan menurut pandangan beberapa pakar asing.
Paula Freire
Pendidikan adalah proses pengaderan
dengan hakikat tujuannya adalah
pembebasan. Hakikat pendidikan adalah kemampuan untuk mendidik diri sendiri.
Langeveld
pembebasan. Hakikat pendidikan adalah kemampuan untuk mendidik diri sendiri.
Langeveld
Pendidikan adalah membantu anak
dalam mencapai kedewasaan dengan tujuan agar anak cukup cakap dalam
melaksanakan tugas hidupnya sendiri tidak dengan bantuan orang lain.
Rosseau
Pendidikan adalah memberikan
pembekalan yang tidak ada pada masa anak-anak, tapi dibutuhkan pada masa
dewasa.
Paulo freire
Pendidikan merupakan jalan menuju pembebasan
yang permanen dan diri dari dua tahap. Tahap pertama adalah masa di mana
manusia menjadi sadar akan pembebasan mereka yang melalui praksis mengubah
keadaan itu. Tahap kedua dibangun atas tahap yang pertama dan merupakan sebuah
proses tindakan kultural yang membebaskan.
Jhon Dewey
Pendidikan adalah suatu proses
pembaharuan makna pengalaman hal ini mungkin terjadi di dalam pergaulan biasa
atau pergaulan orang dewasa dengan orang muda, mungkin pula terjadi secara sengaja
dan dikembangkan untuk menghasilkan kesinambungan sosial. Proses ini melibatkan
pengawasan dan perkembangan dari orang yang belum dewasa dan mengelompok di
mana dia hidup
H. Horne
Pendidikan adalah proses yang terus
menerus (abadi) dari penyesuaian yang lebih tinggi bagi makhluk manusia yang
telah berkembang secara fisik dan mental, yang bebas dan sadar kepada tuhan,
seperti termanifeskasi dalam alam sekitar intelektual, emosional dari
kemanusiaan dari manusia.
Sir Godfrey Thomson
Pendidikan adalah pengaruh
lingkungan atas individu untuk menghasilkan perubahan-perubahan yang permanen
di dalam kebiasaan-kebiasaan, tingkah laku, pikiran dan sifatnya.
KONSEP
PEDIDIKAN
Kecenderungan
pemberian informasi yang lebih dari pada pengembangan kepribadian memberi kesan
bahwa hanya bisa menampakkan kecerdasan intelektualnya saja (IQ). Pernyataan
ini memberi uraian bahwa konsepsi ini menyebabkan peranan sekolah terpisah dari
pengalaman hidup nyata sehari-hari di samping kurang adanya perhatian terhadap
semua bentuk sumber belajar yang ada dalam masyarakat. Pemahaman tentang konsep
ini begitu dominan, sehingga pembaharuan pendidikan selalu diartikan
pembaharuan isi dari kurikulum yang sudah ditetapkan. Bahkan ada kecenderungan
bekal hidup yang diberikan kepada peserta didik terlalu berat, sehingga bobot
kegiatan belajar merupakan beban yang tak tertanggungkan bagi peserta didik
maupun bagi guru, karena waktu yang disediakan terbatas.
Pengembangan
konsep pendidikan selanjutnya mengarah kepada pengertian yang lebih lengkap.
Batasan pendidikan lebih mengacu kepada pendapat para ahli yang mengartikan
pendidikan sebagai usaha yang disengaja dan sadar untuk mengembangkan
kepribadian anak untuk menjadi anggota masyarakat. pandangan tentang hakikat
manusialah yang menjadi dasar untuk membina kepribadian anak manusia dan menyiapkan
mereka menjadi anggota masyarakat.
Konsep
pendidikan selanjutnya adalah konsep pendidikan yang menyatukan semua kegiatan
pendidikan, baik yang terjadi dalam sekolah, maupun di luar sekolah (dalam
keluarga dan masyarakat), secara terpadu yang berlangsung sepanjang hayat, yang
oleh UNESCO disebut pendidikan seumur hidup terpadu life long integrated education. Konsep pendidikan seperti terkemuka
mengandung dua pengertian esensial yaitu pendidikan berlangsung sepanjang hayat
manusia dan pendidikan merupakan kegiatan terpadu antara kegiatan pendidikan
dalam sekolah dan di luar sekolah. Pengertian pertama menegaskan bahwa
pendidikan mengembangkan potensi-potensi dan sikap subjek didik secara maksimal
tanpa mengenal batas usia. Konsep ini tidak sependapat dengan pendidikan yang
hanya mempersiapkan anak untuk menjadi anggota masyarakat atau mempersiapkan
kedewasaan saja. Pengertian yang kedua, pendidikan seharusnya dapat
mengintegrasikan pendidikan yang bermacam-macam dalam masyarakat baik
pendidikan sekolah, pendidikan dalam masyarakat dan pendidikan di tempat kerja.
Pendidikan di luar sekolah kadang kala lebih intensif memberikan pengetahuan dan keterampilan pada bidang
tertentu namun faktanya sekolah adalah lembaga pendidikan yang membawa anak ke dalam
posisi sosial. Keadaan seperti mi menimbulkan kehidupan sosial yang kurang
sehat, karena kadang kala pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh melalui
bermacam-macam pendidikan di luar sekolah yang justru sangat penting untuk
mengembangkan ekonomi atau kehidupan manusia kurang mendapat tempat.
FAKTOR-FAKTOR
PENDIDIKAN
Tujuan
Pendidikan
Tujuan
pendidikan memberikan arah kegiatan pendidikan merupakan sesuatu yang ingin
dicapai oleh kegiatan pendidikan. Dalam UU RI No 20/2003 (Bab II pasal 3), pendidikan
nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi
warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Pendidik
Pendidik
adalah orang yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan terhadap
peserta didik agar bisa menjadi manusia
Peserta
Didik
Peserta
didik merupakan individu atau sekelompok individu yang menjalani proses pendidikan agar terjadi
perubahan-perubahan pada diri mereka sesuai dengan kualifikasi yang
diharapkan. Syarat untuk menjadi
pendidik tergantung dari jenis lembaga dan satuan pendidikan di mana peserta
didik menjalani proses pendidikan
Alat
Pendidikan
Secara
umum, alat pendidikan adalah segala sesuatu yang digunakan untuk mencapai tujuan
pendidikan. Amir Dien Indrakusuma membedakan faktor dan alat pendidikan. Faktor
adalah hal atau keadaan yang ikut
serta menentukan berhasil tidaknya pendidikan. Sedangkan alat adalah
langkah-langkah yang diambil demi kelancaran proses pendidikan. Sementara itu,
Ahmad D. Marimba memandang alat pendidikan dari aspek fungsinya, yakni alat
sebagai perlengkapan, alat sebagai pembantu mempermudah usaha mencapai tujuan (untuk
mencapai tujuan selanjutnya). Dalam praktek pendidikan,
istilah alat pendidikan sering diidentikkan dengan media pendidikan,walaupun
sebenarnya pengertian alat lebih luas dari pada media. Media pendidikan adalah
”alat, metode dan teknik yang digunakan dalam rangka meningkatkan efektivitas
komunikasi dan interaksi edukatif antara guru dan siswa dalam proses pendidikan
dan pengajaran di sekolah.
Isi
Materi Pendidikan
Berdasarkan tujuan pendidikan yang
ingin dicapai, ditetapkan isi/materi pendidikan relevan. Kita tahu bahwa tujuan
pendidikan itu sangat luas, mulai dari tujuan umum sampai ke tingkat tujuan
khusus yang sekecil-kecilnya. Guru harus dapat memberi penafsiran yang tepat mengenai jenis dan
fungsi tujuan yang akan dicapainya secara konkret,sehingga dapat memilih bahan
atau materi dengan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Untuk mencapai tujuan
tersebut isi/bahan yang tepat harus dipilih.
KOMPONEN-KOMPONEN
BELAJAR MENGAJAR
Sebagai suatu sistem tentu saja kegiatan belajar mengajar mengandung sejumlah komponen yang meliputi :
Yang
pertama yaitu Tujuan
Tujuan adalah suatu cita-cita yang ingin dicapai dari
pelaksanaan suatu kegiatan. Tidak ada suatu kegiatan yang diprogramkan tanpa
tujuan, karena hal itu adalah suatu hal yang tidak memiliki kepastian dalam
menentukan ke arah mana kagiatan itu akan di bawah. Akhirnya, guru tidak bisa
mengabaikan masalah perumusan tujuan bila ingin memprogramkan pengajaran.
Yang
kedua yaitu Bahan Pelajaran
Bahan pelajaran adalah substansi yang akan disampaikan
dalam proses belajar mengajar. Tanpa bahan pelajaran proses belajar mengajar
tidak akan berjalan. Karena itu, guru yang akan mengajar pasti memiliki dan
menguasai bahan pelajaran yang akan disampaikannya pada anak didik. Ada dua
persoalan dalam penguasaan bahan pelajaran ini, yakni penguasaan bahan pelajaran
pokok dan bahan pelajaran pelengkap. Bahan pelajaran pokok adalah bahan
pelajaran yang menyangkut bidang studi yang dipegang oleh guru sesuai dengan
profesinya (disiplin keilmuannya). Sedangkan bahan pelajaran pelengkap atau
penunjang adalah bahan pelajaran yang dapat membuka wawasan seorang guru agar
dalam mengajar dapat menunjang penyampaian bahan pelajaran pokok. Bahan
penunjang ini biasanya bahan yang terlepas dari disiplin keilmuan guru, tetapi
dapat digunakan sebagai penunjang dalam penyampaian bahan pelajaran pokok.
Pemakaian bahan pelajaran penunjang ini harus disesuaikan dengan bahan
pelajaran pokok yang dipegang agar dapat memberikan motivasi kepada sebagian
besar atau semua anak didik.
Yang
ketiga yaitu Kegiatan Belajar Mengajar
Kegiatan belajar mengajar adalah inti kegiatan dalam
pendidikan. Segala sesuatu yang telah diprogramkan akan dilaksanakan dalam
proses belajar mengajar. Dalam kegiatan belajar mengajar akan melibatkan semua
komponen pengajaran, kegiatan belajar akan menentukan sejauh mana tujuan yang
telah ditetapkan dapat dicapai. Dalam kegiatan belajar mengajar, guru dan anak
didik terlibat dalam sebuah interaksi dengan bahan pelajaran sebagai mediumnya.
Dalam interaksi itu anak didiklah yang lebih aktif, bukan guru. Guru hanya
berperan sebagai motivator dan fasilitator.
Yang
keempat yaitu Metode
Metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan. Dalam kegiatan belajar mengajar, mereka
diperlukan oleh guru dan penggunaannya bervariasi sesuai dengan tujuan yang
ingin dicapai setelah pengajaran berakhir. Seorang guru tidak akan dapat
melaksanakan tugasnya bila dia tidak menguasai satu pun metode mengajar yang
dirumuskan dan dikemukakan para ahli psikologi dan pendidikan (Syaiful Bahri
Djamarah, 1991: 72).
Yang
kelima yaitu Alat
Alat adalah segala sesuatu yang dapat digunakan dalam
rangka mencapai tujuan pengajaran. Sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan
dalam mencapai tujuan pengajaran, alat mempunyai fungsi, yaitu alat sebagai
perlengkapan, alat sebagai pembantu mempermudah usaha mencapai tujuan dan alat
sebagai tujuan (Ahmad D. Marimba, 1989: 51).
Yang
keenam yaitu Sumber Pelajaran
Yang dimaksud dengan sumber-sumber bahan dan belajar
adalah sebagai sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat di mana bahan
pengajaran terdapat atau asal untuk belajar seseorang (Drs. Udin Saripuddin
Winataputra, M.A. dan Drs. Rustana Ardiwinata, 1991: 165). Dengan demikian,
sumber belajar itu merupakan bahan/materi untuk menambah ilmu pengetahuan yang
mengandung hal-hal baru bagi si pelajar. Sebab pada hakikatnya belajar adalah
untuk mendapatkan hal-hal baru (perubahan).
Yang
pertama yaitu Evaluasi
Istilah evaluasi berasal dari bahasa Inggris, yaitu
evaluation. Dalam buku Essentials of Educational Evaluation karangan Edwin Wand
dan Gerald W. Brown. Dikatakan bahwa Evaluation refer to the act or prosess to
determining the value of something. Jadi, menurut Wind dan Brown, evaluasi
adalah suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu.
Sesuai dengan pendapat di atas, maka menurut Wayan Nurkancana dan P.P.N.
Sumartana, (1983: 1) evaluasi pendidikan dapat diartikan sebagai tindakan atau
suatu proses untuk menentukan nilai sebagai sesuatu dalam dunia pendidikan atau
segala sesuatu yang ada hubungannya dengan dunia pendidikan. Berbeda dengan
pendapat tersebut, Ny. Drs. Roestiyah N.K. (1989: 85) mengatakan bahwa evaluasi
adalah kegiatan mengumpulkan data seluas-luasnya, sedalam-dalamnya, yang
bersangkutan dengan kapabilitas siswa guna mengetahui sebab akibat dan hasil
belajar siswa yang dapat mendorong dan mengembangkan kemampuan belajar.
DAFTAR PUSTAKA
Hasbullah.1997. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
http://www.scribd.com/doc/7174661/uk-no-20-thn-2003-ttg-sisdikas. diakses pada 3 September 2012 Pukul 14:32
Ihsan,
H.Fuad. 1995. Dasar-dasar Kependidikan.
Jakarta : Ikapi.
Kartono, R.Kartini. 1992. Pengantar Ilmu Mendidik Teori . Bandung
: Mandar Maju.
Fernandez
perez, Miguel. 1982.Krisis Dalam
Pendidikan. Jakarta : PN Balai Pustaka
Prof
. Dr. Tilaar , H.A.R.M.Sc.Ed. 2002 .Pendidikan dan Masyarakat madani Indonesia. Bandung : PT. Remaja
Rosdakarya.
Thonthowi, Ahmad (1993). Psikologi Pendidikan. Bandung: Penerbit ANGKASA BANDUNG
Drs.Niron,Yoseph (2011). Silabus
Matakuliah Pengantar Pendidikan. Kupang: OLEH YOSEPH NIRON
No comments:
Post a Comment